The Next Generation Traffic Network

Selasa, 21 Mei 2013

3 Film Jadul Indonesia yang Super HOT dan Bugil

3 Film Jadul Indonesia yang Super HOT dan Bugil - Film indonesia yang mungkin anda Ketahui sudah lepas dari yang Namanya Konten dewasa, tapi sayangnya pengiraan anda tidak Benar, ada 3 Film Jadul Indonesia yang berisikan Kontes Dewasa dan HOT banget, Katanya waktu dulu belum ada yang Protes dari berbagai Pihak, ALhasil para produser bebas membuat Adegan Ciuman HOT, bahkan ada Yang Adegan Telanjang.

dan Berikut saya Akan Melihatkan Kepada Anda mengenai Film Indonesia Jadul yang berisikan Adegan dewasa pada waktu itu, dan sebagian pemainnya mungkin masih hidup sampai sekarang..

1. Cewek-cewek Pelaut
Diperankan Oleh Debby cynthia Dewi, Enny beatrice, George RUdy





2. Kenikmatan Tabu
Diperankan Oleh Inneke koesherawati,Kiki fatmala, lela anggraeni



 

 3. Montir-Montir cantik
Diperankan Oleh Eva arnaz,Enny beatrice, dan George Rudy




bagaimana menurut anda?
hot kan?


Senin, 20 Mei 2013

Gagal Naik Podium, Dovizioso Tetap Bahagia



LE MANS - Andrea Dovizioso gagal memaksimalkan peluang untuk meraih podium pada seri MotoGP Prancis. Sempat memimpin balapan, pembalap Ducati ini harus puas finish di posisi empat.

Mengawali start dari urutan tiga, Dovi tampil gemilang di lintasan basah sirkuit Le Mans. Pembalap Italia ini bahkan langsung mengklaim posisi pertama pada tikungan pertama.

Memasuki pertengahan lomba, Dovi mulai mendapat perlawanan dari Dani Pedrosa. Beberapa kali, kedua pembalap mempertontonkan aksi salip-menyalip. Namun, pada akhirnya Pedrosa sukses memenangi duel dan keluar sebagai juara.

Dovi sendiri justru gagal mempertahankan konsistensinya. Performanya malah menurun, sehingga berhasil dilewati Cal Crutchlow dan Marc Marquez dalam perebutan podium ketiga.

Meski gagal naik podium, Dovi mengaku senang dan puas. Sebab, mantan pembalap Repsol Honda dan Monster Yamaha Tech 3 ini melihat ada perkembangan signifikan yang ditunjukkan motornya.

“Saya senang dengan balapan kali ini. Berada di depan, setiap orang selalu merasa senang. Dan bagi saya, bisa memimpin balapan di pertengahan awal balapan merupakan hal yang bagus,” ujar Dovi sebagaimana dikutip Crash.

“Sayangnya, hujan tidak turun sepanjang balapan. Dan itu membuat saya kesulitan terutama di akhir-akhir (saat lintasan mulai kering). Saya rasa kami bisa tampil kompetitif di lintasan basah,” tandasnya.



Penyesalan The Doctor



LE MANS - Valentino Rossi harus melupakan impiannya naik podium di MotoGP Prancis. Satu kesalahan yang dibuatnya membuat The Doctor kehilangan kesempatan berdiri di podium.

Vale yang mengawali balapan dari urutan delapan, sebenarnya tampil cukup baik di bawah guyuran hujan yang membasahi sirkuit Le Mans. Pembalap 34 tahun sukses melewati lawan-lawannya hingga menempati posisi empat di pertengahan lomba.

Namun, petaka menimpanya di 10 lap terakhir. Di bawah tekanan mantan rekan setimnya, Nicky Hayden dalam perebutan posisi empat, Vale kehilangan daya cengkeram ban depan saat melahap tikungan La Chapelle dan terjatuh.

Meski bisa kembali ke lintasan, namun Rossi kehilangan banyak waktu sehingga harus puas berada di urutan 12 pada akhir balapan. Insiden tersebut tentu menimbulkan penyesalan mendalam buat peraih sembilan titel juara tersebut.

“Sayangnya, kami kehilangan kesempatan untuk meraih hasil bagus hari ini. Saya rasa, kami punya potensi untuk bisa berada di podium (tiga). Kecepatan motor saya cukup baik, dan saya merasa bisa bertarung dengan pembalap di depan,” ujar Rossi di situs resmi MotoGP.

“Saat memasuki tikungan itu (La Chapelle), saya tidak terlalu cepat dan saya merasa tidak melakukan kesalahan apapun. Tapi, saya merasa ada benturan dan kehilangan daya cengkeram pada ban depan. Jadi, sangat disayangkan kami kehilangan poin dan terutama kesempatan untuk naik podium,” sesalnya.

Hasil ini membuat Rossi harus turun satu strip ke urutan lima klasemen sementara pembalap. Dengan koleksi mengoleksi 47 poin, The Doctor kian sulit merealisasikan ambisi merebut mahkota juara ke-10, menyusul selisih 33 poin dari Pedrosa yang memimpin klasemen sementara pembalap.


Kemenangan Spesial Bagi Pedrosa



LE MANS - Dani Pedrosa sumringah usai memenangi seri MotoGP Prancis. Kemenangan ini tak hanya yang membuatnya memimpin klasemen sementara, tapi juga yang pertama diraihnya di Le Mans sejak dirinya tampil di MotoGP.

Tampil dalam kondisi hujan di Sirkuit Le Mans, Pedrosa yang mengawali start di urutan enam, tampil impresif. Dia sukses memimpin balapan di pertengahan lomba. Meski sempat mendapat perlawanan dari Andrea Dovizioso, The Little Spaniard sukses menyentuh finish pertama dengan keunggulan 4 detik dari Cal Cruthlow di tempat kedua.

“Ini merupakan balapan yang hebat bagi saya. Saya sangat senang, karena saya kehilangan posisi di awal karena lintasan licin, namun akhirnya naik podium pertama,” ujar Pedrosa dikutip Autosport.

“Saya kehilangan daya cengkeram pada ban belakang, namun terus berusaha bertarung dengan Dovi dan Lorenzo. Sesaat setelah mendapat feel yang bagus di lintasan basah, saya mencoba terus menekan, meski melakukan beberapa kesalahan dan dua kali nyaris terjatuh,” sambungnya.

“(Setelah berada di depan) saya terus bertahan dan mencoba menjaga ritme. Jadi, saya bisa terus berada di depan dan menjaga kecepatan. Motor bekerja dengan baik, sementara ban mulai banyak meleset menyusul keringnya lintasan di lap terakhir, tapi pada akhirnya saya bisa menjaga gap dan meraih kemenangan special ini,” tuntasnya.

Ini merupakan kemenangan kedua secara beruntun yang dipetik Pedrosa setelah sebelumnya menang di Jerez. Kemenangan ini praktis membuat Pedrosa untuk sementara memimpin klasemen pembalap dengan 83 poin, atau unggul enam angka dari rekan setimnya Marc Marquez.

Yang lebih spesial, kemenangan di Le Mans merupakan kemenangan pertama Pedrosa sejak dirinya terjun di kelas MotoGP pada 2006. Tambahan 25 poin dari kemenangan ini membuatnya beergabung dengan Valentino Rossi dan Loris Capirossi sebagai pembalap yang sukses mengoleksi lebih dari 3000 poin di MotoGP. Pedrosa mengoleksi 3011 poin.


Minggu, 19 Mei 2013

Cerbung Pusara di Tanah Berempunya Part 1


       Mentari sepertinya masih bersembunyi dan tak mau menunjukkan eksistensinya dibalik putaran bumi.Tetapi nampak meganya telah memancar dari sisi timur tempat kehidupan manusia.Sebelumnya Pak Suwito Utomo sudah terbangun dari tidurnya yang baru beberapa jam.Saat beliau membuka mata,masih saja terngiang tentang karut marut problema yang sedang beliau hadapi.Tetapi kesunyian begitu mendamaikan dan memecah sedikit kegundahan.Angin juga tak begitu besar berhembus yang mengurangi udara dingin di desa Karamanca.Begitu komplek,  warna dipagi itu.
         Ketika jarum jam menunjukkan pukul 05.00 Pak Tomo(begitu orang-orang memanggilnya) sudah beranjak keluar rumah untuk menyirami tanaman-tanaman miliknya.Hampir semua jenis tanaman ada di pekarangan rumahnya.Namun,tanaman Durianlah yang paling beliau sukai.Ada berbagai jenis tanaman durian di pekarangannya.Misalnya saja durian Kaniurin,Sitokong,Kokmaetu,durian lokal,dan yang terbaru adalah jenis durian Montong yang baru saja beliau beli beberapa hari sebelumnya.Beliau memang seorang pecinta tanaman sejati,meskipun seringkali tanaman buah yang beliau beli tidak menghasilkan buah secara maksimal,beliau tetap mencoba.Paling tidak semua anggota keluarganya dapat merasakan nikmatnya buah-buahan dari tanaman yang beliau tanam.Tak jarang tetangga-tetangga juga mendapat bagian meski sekedar mencicipi.
       Terlihat samar-samar dibalik gelapnya pagi Pak Tomo menjinjing tembor (sebutan orang didesa Karamanca terhadap alat untuk mengisi air yang digunakan untuk menyirami tanaman) yang penuh dengan air dan menyiramkannya keseluruh tanaman miliknya.Terlihat begitu terbiasa beliau melakukan hal itu,hingga sepertinya sudah hafal betul cara dan takaran dalam menyiram tumbuh-tumbuhan.Meski pada dasarnya beliau adalah seorang pensiunan guru Sekolah Dasar, beliau terlihat begitu terampilnya merawat tanaman-tanaman tersebut hingga berbuah.Benar-benar seorang yang multitalenta.
        Lepas dari semua itu, Pak Tomo adalah seorang ayah yang baik dan penyayang terhadap ke-7 anaknya.Apabila orang yang mengetahui betul karakter Pak Tomo, mereka akan mengatakan “Pak Tomo itu keras diluar tapi, lembut didalam” secara serempak. Hanya saja bagi orang-orang yang belum begitu paham akan karakter Pak Tomo yang sebenarnya, mereka sering mengaggap Pak Tomo adalah orang yang bengis, tidak beretika baik, bahkan ada pula yang menganggapnya seorang diktator.Ya, begitulah manusia, terlahir dengan berjuta karakter masing-masing sebagai tanda kebesaran sang Empunya hidup.
       Dengan usia yang tak lagi muda beliau masih berjibaku melawan arah putar roda sang waktu. Dengan sisa semangat yang masih beliau miliki dan masih terus dipupuknya semenjak 61 tahun yang lalu, beliau masih dapat berdiri tegak mencari keteguhan hatinya akan sebuah kehidupan. Masih terus menantang terik sang mentari agar dapat terus berteman dengan alam. Seperti manusia pada umumnya, tubuh Pak Tomo tak lagi sekuat dulu saat usianya baru beranjak belasan tahun. Sekarang fitalitas Pak Tomo mengalami penurunan dan tak jarang beliau jatuh sakit.

Kendati seperti itu, beliau tak pernah sedikitpun mengeluh ataupun menggerutu. Beliau hanya terus menjalani apa yang menjadi kewajibannya sebagai seorang makhluk Tuhan, sebagai makhluk sosial, dan tentunya sebagai seorang ayah dan seorang kepala keluarga.

        Begitu asiknya Pak Tomo menyirami tanaman-tanaman di Pekarangan rumahnya, hingga tak sadar bahwa waktu telah beranjak. Mentari juga telah memunculkan semua wajahnya yang begitu menyilaukan. Hingga ahirnya hawa panas dan rasa gerah mulai menyergap tubuh keriput Pak Tomo. Tiba-tiba terdengar suara keras memanggil namanya. “Pak Tomo...! Pak Tomo...!” semakin lama semakin mendekat dan nampak seorang pria paruh baya mendekat kearahnya.

 “Pak Tomo, istirahat dulu. Ini kan sudah siang” pria tersebut mengajak Pak Tomo beristirahat. “Memang ada apa Niat ?” sahut Pak Tomo menghentikan aksinya memangkas daun-daun yang sudah sedikit mengering.

“Ayolah, ada hal penting yang ingin saya sampaikan kepada bapak” sambil menyentuh pundak Pak Tomo.

“Ya sudahlah. Tunggu sebentar aku mau cuci tangan, kamu masuk saja dulu” dengan sedikit menggosok tangannya yang masih berlumuran tanah kering akibat mengorek-orek tanah.

Dengan berbalik arah Niat menjawab “ya pak”.

Kemudian Pak Tomo mencuci kaki dan tangannya lantas masuk dan menemui Niat yang sudah duduk menunggu di ruang tamu.

“Ada apa At?” tanya beliau kepada Niat yang notabennya mantan muridnya di SD dulu.

“Begini Pak, berkas pengajuan sudah saya serahkan kepada pihak Polres. Sekarang kita tinggal menunggu panggilan dari pihak Polres Pak”. Jelas Niat kepada mantan gurunya tersebut.

“Bagus lah At, agar semua urusan cepat selesai” Pak Tomo sedikit lega.

“Sekarang kita tinggal menunggu kepastian, apakah hukum masih berdiri tegak di Indonesia tempat kita berdomisili sekarang ini” tambah Pak Tomo.

“Iya Pak, semoga saja. Kita tunggu info selanjutnya”. Niat juga berharap.
“Walah, gara-gara sibuk mengobrol sampai lupa kamu tidak dibuatkan minum” dengan sedikit menggelengkan kepala.
Kemudian dengan suara agak lantang Pak Tomo memanggil Istrinya yang berada didapur..
“Bu, Ibu...”
“Iya Pak? Ada apa?” sahut Ibu Ira sedikit samar karena jarak ruang tamu dan dapur lumayan jauh.
“Buatkan minum untuk Mas Niat Bu...” Pak Tomo memerintah.
Dengan suara yang agak samar kembali Bu Ira menjawab “Iya Pak sebentar”.

       Tak lama kemudian Bu Ira membawakan secangkir kopi diatas sebuah nampan merah bercorakkan bunga-bunga.Bersamaan kopi juga ada setoples sale pisang yang masih memenuhi wadahnya.

“Monggo mas minumnya. Mumpung masih hangat”. Sambil menurunkan secangkir kopi dan setoples sale pisang dari nampan.

“Oh iya bu, terima kasih. Jadi merepotkan”. Dengan sedikit tersipu.

Kedua ayah tersebut melanjutkan kembali perbincangannya tentang berkas pengaduan kepada pahak Polres.

Tak terasa hari sudah semakin siang dan adzan dhuhurpun berkumandang.

“Wah ndak terasa sudah dhuhur, kalau begitu saya pamit pulang dulu pak”. Berdiri dari tempat duduknya.

“Iya At, terima kasih atas bantuannya” sambil berjalan menuju pintu rumah.

Kemudian Niat mengucapkan salam “asalamu’alaikum”.

“Wa’alaikumsalam” jawab Pak Tomo.

     Hari demi hari telah berlalu seperti biasanya. Masih sama dari hari-hari sebelumnya. Rutinitas Pak Tomo tak begitu banyak perubahan berarti. Memang semenjak beliau pensiun dari profesinya sebagai seorang PNS, beliau menghabiskan banyak waktunya untuk mengurus kebun dan tanaman miliknya. Mungkin untuk saat ini beliau sedang merindukan seorang anak bungsunya yang telah lama belum pulang karena tidak ada hari libur.

Saat ini anak bungsunya sedang mengikuti study disebuah Universitas swasta yang jauh dari kota tempat ia tinggal.

         Hingga ahirnya pada suatu siang disaat Pak Tomo sedang duduk melamun diruang tamu, tepatnya dipojok sebuah bale yang terbuat dari kayu Jati dan bercorakan ukiran pada tempat bersandarnya. Beliau terkagetkan dari lamunannya karena tepukkan tangan Bu Ira tepat dipundak sebelah kiri. “Haaaargh...! ada apa bu? Mengagetkan saja”.

“Bapak itu yang kenapa, melamun saja dari tadi” ucap Bu Tomo.

“Bapak rindu dengan Arga bu. Sudah lama dia tak pulang” dengan sedikit bersedih Pak Tomo menjawab.

“Sudahlah pak, disana Arga juga sedang belajar agar dapat menjadi anak yang berguna bagi bangsa dan negara. Nanti malah Arga merasa tidak betah disana” Bu Ira mencoba menenangkan hati Pak Tomo yang sedang gundah. Mungkin Pak Tomo rindu pada anak bungsunya karena hampir 4 bulan Arga tak pulang kerumah.





bersambung...

by: Heri Harto Sembodo

IBADAH

Makan kacang makan ketupat
Ketupat terbuat dari beras
Mari kita sembahyang cepat
Mari jalankan dengan ikhlas

Buah yang bagus buah delima
Buah delima berwarna merah
Ibadah yang bagus adalah puasa
Puasa dengan menahan amarah

Memancing ikan disungai
Takkan dapat ikan paus
Meraih puasa yang hakiki
Tak sekedar lapar dan haus

Berangkat sekolah setelah mandi
Mandi dengan air yang suci
 Berangkat ibadah ke tanah suci
Tak laksana ibadah haji


dikutip dari buku "Menguntum"

CINTA TAK BERJARAK

Antara Solo-Bogor hatiku terpaut
Meski kadang diliput rasa takut
Antara Solo-Bogor yang jauh terbentang
Tak jarang godaan datang

Antara Solo-Bogor adalah hidup kita
Membangun masa depan bahagia
Tak usah dengarkan kata mereka
Yang tak terima kenyataan kita

Toh, antara Solo-Bogor banyak armada yang mengantar
Kotak pendingin yang setia atau lokomotif yang berjajar
Semua ada untuk kita
Mengantar rasa kepada yang punya

Hari demi hari terlewati
Tak pernah sedikitpun kita tak bersama
Demi kehormatan menjaga hati
Berdua merajut asa

Antara Solo-Bogor
Kini berbeda
Dulu jarak kini berganti
Cinta


dikutip dari buku "Menguntum"

PENGAWAS yang DIAWASI

Manusia tak pernah lepas dari pengawasan
Setiap gerak-geriknya tercatat
Baik buruk oleh malaikat
Ringan berat oleh sang pencatat

Itulah pengawas yang hakiki
Yang tak henti mengawasi
Itrulah pengawas yang abadi
Yang tak bisa dibohongi

Eits, tapi...
Lihatlah kini
Apa yang ada diruangan ini
Kenapa pengawas itu banyak sekali?

Dengan tiga puluh tiga pasang bola mata
Terus menata ke muka
Ada apa sebenarnya di sana?

Tak ada yang menarik di sana
Yang ada hanya seorang wanita berjilbab cokelat
Tak ada yang istimewa darinya
Apalagi perhiasan yang mengikat

Lalu, siapa sebenarnya dia?


dikutip dari buku "Menguntum"

SEBUAH PENANTIAN

Terus menghitung
Dan selalu menghitung
Dalam sebuah penantian panjang
Akan sesosok hamba kecil

Yang maknanya tak sekecil tubuhnya
Yang kehebatannya tak selemah raganya
Yang artinya tak semungil tubuhnya
Dalam hidupku

Tak kuasa ku menunggu suatu masa
Ketika seorang berbaju serba putih
Itu berkata...
"dia telah ada dalam dirimu"


dikutip dari buku "Menguntum"

Sabtu, 18 Mei 2013

DIAM

bunyi kertas tersapu angin kipas
lembut tajam coretan pena menorah kertas-kertas suci
dan bisik-bisik nyata tak mampu mengoyak kesepian
menambah pahit dan nyeri perasaan teriris murka
dan tertahan dalam jeruji nyali menunggu waktu
hingga bunyi lonceng berlalu
menggelegar memecah segala yang membatu


dikutip dari buku Menguntum