The Next Generation Traffic Network
Tampilkan postingan dengan label SASTRA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SASTRA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 April 2014

Sambut Pagi

Secawan kopi hitam berbaur dari seduh.
Pagi ini aku mulai bangun kembali.
Mencoba berdiri dan berbenah tentang apa yang salah.

Dulu aku belajar melangkah.
Beranjak dewasa langkahku semakin jauh kendati jiwa semakin penat.
Disisi lain hamparan sabana menyadarkanku tentang buruk duduk termangu.
Mereka tak tau itu.
Siapa yang mau tau?
Apa ilalang disana bergoyang karena riang?
Ternyata nuri punya naluri berkicau.
Kembang putih kuning ditempat dingin tenang menyambut.
Diantara jerami orang bergelut dengan butir mentah putih.
Disana ada yang berjibaku dengan gelombang menepis hempasan.
Ada lobak dan sawi segar dipekarangan.
Ada pula rayuan nyiur dahan kelapa.
Bagaimana kau tau jika kau tak melangkah?
Dan dengan sedikit getar pekat awan kelabu kau sudah bersembunyi.


H2S Survival

Rahasia Hati

Dalam keheningan sejenak peluh ini tertahan.
Sembari tertunduk dan mencari jawaban yang tak pernah terjawab.
Mencari kehidupan sebagai kewajiban terlahir.
Menusuknya bayu beku, gemerisik daun buluh, atau pecahnya sang surya.
Menjadi ego besar sarat kedamaian.
Bukan gemerlap.
Lain dengan kerdip delima.
Ini soal yang besar yang tak satupun cendekiawan benar dalam deskripsinya.
Menengadah ketika mencari.
Lalu tertunduk saat sadar diri.
Itu jawaban akan semua pertanyaan ini.

H2S. Survval

Carut Marut Negeri

Apa ini yang disebut perkembangan?
Seperti inikah pembaharuan tentang keadaan yg digadang-gadang sebagai kegagalan?
Miris dan teriris perih rasa kalbu
Ketika saudara-saudara kita terbenam dalam nanar

Tanah yg katanya surga berubah menjadi pusara sebelum masanya tiba
Lihat sang giri gagah berdiri
Berdiri dan sekarang ditukar dengan lembaran kertas bernominal
Oleh mereka yang datang dari jauh
Dari barat daya dengan dunianya
Tak memiliki dan berlaku picik

Tanah dikeruk dan terus dikeruk hingga dalamnya membuat lubang curam menganga
Membuat langkah terhenti tuk mendekati
Tembaga itu mereka ambil
Emas kita mereka rampas
Dan berbagai unsur berharga yg seratus kali lipat mereka renggut
Hanya sepersen saja kita dibagi
Itupun habis dimulut-mulut serakah anjing berdasi itu
Sedangkan saudara kita hanya bisu dengan pergerakan beku
Tanpa daya, tiada berontak
Disekitar terlihat mereka lapar
Disekeliling saudara kita compang-camping
Dengan gaya lusuh berjibaku dengan terik sang surya mengais rizky untuk sekedar remah roti
Hanya untuk beras negeri tetangga
Disisi lain nampak hutan yg berubah menjadi lahan amoh penghasil minyak
Hingga terbakar
Gelap, pekat, dan hanya terlihat kesenduan
Bisa apa kita?

Ketika mesin-mesin pengeruk menancapkan pipa pembobol tanah surga ini?
Lalu siapa yg harus bertanggung jawab?

Semua pergi
Semua acuh

Hanya menimbun dan mengubur berdamping lumpur
Apa hanya sejauh ini indonesia?
Negeri dengan usianya tak kalah senja dengan proklamirnya?
Apa harus menunggu hujan abu dan kelabu awan menutup langit biru?
Apa perlu kita menunggu semuanya hancur?

Miris saudaraku...

Apa yang kita bisa?
Hanya menyaksikan bangsa ini tenggelam didalam surganya?

Perlu sejuta tanya untuk semua ini.

H2S Survival.

Kamis, 18 Juli 2013

Kisah pelacur orangutan di rimba Borneo

Kisah pelacur orangutan di rimba Borneo


Sebuah berita lama terangkat kembali lantaran ramai di jejaring sosial Twitter. Orangutan asal wilayah Kerengpangi, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah dijadikan pelacur melayani nafsu bejat banyak lelaki di tempat itu.
Situs vice.com melaporkan peristiwa ini terjadi lima tahun lalu (2007). Pony nama orang itu hidup di tengah-tengah lokalisasi di Kerengpangi. Dia dipelihara oleh seorang gundik tidak disebutkan namanya. Sekitar umur lima tahun Pony mulai diajarkan melayani para pencari kenikmatan.
Berdasarkan wawancara vice.com dengan direktur Organisasi Penyelamatan Orangutan Borneo Michelle Desilets, keadaan Pony sangat mengenaskan saat diselamatkan dari tempat prostitusi itu. Dia dirantai, tiduran di atas matras, dan semua bulunya dicukur.
Pony seolah telah dilatih menjadi pelacur. Jika ada lelaki berjalan mendekatinya dia langsung bergaya seperti menjajakan diri. Gundiknya mengatakan Pony menjadi bintang di rumah bordilnya. Pendapatan gundik itu jadi berlipat-lipat dan dia pun dianggap sebagai keberuntungan sebab si gundik selalu menang judi togel jika ada Pony.
Para tamu pun menyukai Pony. Mereka bisa saja memilih pelacur manusia namun banyak juga bercinta dengan orangutan itu. Agar nyaman seluruh bulu Pony digunduli. Pony jadi sering digigit nyamuk dan kulitnya iritasi bahkan berjerawat.
Butuh tahunan menyelamatkan Pony dari tempat itu. Polisi hutan dan aparat lokal tidak menyerahkan Pony begitu saja pada Organisasi Penyelamatan Orangutan Borneo. Mereka menghadang dengan senjata, pisau, bahkan melengkapi diri dengan senapan serbu AK-47.
Saat Pony direbut dari gundiknya, sang gundik histeris dan menyebut para pegiat sebagai binatang tidak berperikemanusiaan sebab telah memisahkan seolah ibu dan anak. "Paling membuat saya miris, tidak ada hukum di Indonesia mengatur hal ini. Mereka masih bebas berkeliaran tanpa dihukum atas apa yang mereka lakukan," ujar Desilets.
Meski berita lama namun penggemar Twitter banyak baru mengetahuinya. Banyak orang mengatakan manusia memang sudah sakit di segala tingkatan.

Senin, 27 Mei 2013

Katanya si Cerita Misteri di Gunung Slamet



G.slamet
Pendakian pertama KOMA ke gunung Slamet merupakan pendakian ‘taruhan‘. Semangat ke Slamet di picu oleh cibiran sinis seorang ustadz yang merasa sudah ‘weruh sedurunge winarah‘.
Kala itu KOMA merasa tertantang dengan omongan si ‘orang pintar‘.
“Tak akan pernah ada manusia yang bisa menginjak puncak gunung Slamet. Kalaupun bisa sampai ke puncak,orang itu di jamin tidak akan turun dengan selamat.”
Memang waktu itu di Slamet pas sedang ada kejadian tewasnya beberapa pendaki dari Jogja.
Omongan ‘si pintar’ dan tragedi Slamet sedikitpun tidak menyurutkan niat dan semangat KOMA. Empat personil KOMA akhirnya berangkat juga ke Slamet. Rudi,Ubaid,Copet dan aku berangkat dengan perlengkapan seadanya dan sangat sederhana.
Pendakian kami mulai dari pos dukuh Bambangan. Belum apa-apa,kami sudah dihadapkan dengan kejadian yang menyeramkan. Bertepatan dengan datangnya waktu maghrib di base camp (rumah pak kadus),ada pendaki cewek dari Jepara yang sedang kesurupan.
Cewek Jepara belum sembuh,datang pendaki asal Sulawesi yang baru turun dan melaporkan kalau temannya ada yang kesurupan di tengah hutan gunung Slamet. Serem dan ngeri juga,ya… tapi semua kejadian itu tak mengurangi semangat KOMA.
Team KOMA berjalan santai saling beriringan. Pemandangan di mana-mana cuma kabut tebal saja yang terlihat. Kami mendaki malam minggu pas bulan purnama waktu itu. Kami bejalan sembari ngobrol ngalor ngidul dan bersenda gurau Tak terasa sampailah Koma di pos payung. Sebentar lagi akan memasuki kawasan hutan tropis yang sangat lebat.
Cuaca tambah tak karuan. Dingin menusuk, kabut menyergap,angin menerjang… Bayangan pepohonan di bibir hutan tropis laksana pasukan jin sedang berbaris siap menjemput kedatangan kami. Mendadak suasana berubah menjadi hening. Sepi. Cuma dengus nafas kami yang terengah-engah yang terdengar lirih.
Tak satupun kami temui pendaki-pendaki lainnya. Mungkin mereka sudah mimpi di tenda masing-masing. Kami memang pendaki urutan terakhir malam itu.
Tiba-tiba ada angin kencang memotong perjalanan kami. Kami berempat berhenti sejenak karena kaget.
Kekagetan anak-anak Koma berubah jadi rasa ngeri.. Bibir kami serasa terkunci sesaat. Setelah angin kencang lewat,menyeruaklah aroma kembang melati, kadang berganti wangi kenanga silih berganti.
Padahal diantara kami tak satupun bawa kembang maupun parfum pewangi. Merinding semua bulu kuduk,tak ada yang berani bicara. Dalam ketidak tahuan dan rasa ketakutan,secara reflek kami serentak berteriak Allahu Akbar…!!
Dan kamipun langsung lari pontang panting masuk ke pos hutan. Jantung serasa mau meletus,dag dig dug. Senda gurau dan kekonyolan kami sirna tak tersisa. Yang terbayang hanya kengerian dan ketakutan yang teramat sangat.
Masih di selimuti perasaan tak karuan, akhirnya kami putuskan untuk buka tenda di Pos Samarantau. Padahal ada yang bilang,kalau nama Samarantau itu sama dengan Sarang Rumah Hantu.
Tapi kami sudah tak peduli lagi. Rasa lelah dan pasrah dengan kejadian dibibir hutan tadi menyebabkan kami tak lagi memikirkan hal ini. Yang ada cuma pikiran untuk tidur,tidur dan mimpi indah.
Alhamdulillah,tidur kami sukses tanpa tambahan mimpi buruk apapun. Dan setelah menghangatkan badan dengan minuman Jahe,kamipun melanjutkan pendakian menuju puncak Slamet.
Jam 03.00 dini hari KOMA kembali bergerak. Kali ini kami mengambil sistem treking cepat. Karena posisi kami masih jauh di tengah hutan. Sedangkan kami pingin menyaksikan terbitnya sang surya. Personil Koma berjalan nyaris berlarian. Entah dari mana kami mendapat suplemen tenaga baru ini.
Pas 2 jam kami berlarian sampailah kami di Palawangan. Dari sini kami mengabadikan terbitnya matahari.
Treking terakhirpun kami lalui dengan sukses dan selamat sampai puncak Slamet. Sujud syukur KOMA lakukan di puncak 3428 mdpl.
(SekarangPenulis tinggal di sisi Timur kaki Gunung Slamet)
41.466118 -91.870861
Entry filed under: MENDAKI GUNUNG. Tags: .(CERITA RAKYAT)
by : Denny A

Minggu, 19 Mei 2013

Cerbung Pusara di Tanah Berempunya Part 1


       Mentari sepertinya masih bersembunyi dan tak mau menunjukkan eksistensinya dibalik putaran bumi.Tetapi nampak meganya telah memancar dari sisi timur tempat kehidupan manusia.Sebelumnya Pak Suwito Utomo sudah terbangun dari tidurnya yang baru beberapa jam.Saat beliau membuka mata,masih saja terngiang tentang karut marut problema yang sedang beliau hadapi.Tetapi kesunyian begitu mendamaikan dan memecah sedikit kegundahan.Angin juga tak begitu besar berhembus yang mengurangi udara dingin di desa Karamanca.Begitu komplek,  warna dipagi itu.
         Ketika jarum jam menunjukkan pukul 05.00 Pak Tomo(begitu orang-orang memanggilnya) sudah beranjak keluar rumah untuk menyirami tanaman-tanaman miliknya.Hampir semua jenis tanaman ada di pekarangan rumahnya.Namun,tanaman Durianlah yang paling beliau sukai.Ada berbagai jenis tanaman durian di pekarangannya.Misalnya saja durian Kaniurin,Sitokong,Kokmaetu,durian lokal,dan yang terbaru adalah jenis durian Montong yang baru saja beliau beli beberapa hari sebelumnya.Beliau memang seorang pecinta tanaman sejati,meskipun seringkali tanaman buah yang beliau beli tidak menghasilkan buah secara maksimal,beliau tetap mencoba.Paling tidak semua anggota keluarganya dapat merasakan nikmatnya buah-buahan dari tanaman yang beliau tanam.Tak jarang tetangga-tetangga juga mendapat bagian meski sekedar mencicipi.
       Terlihat samar-samar dibalik gelapnya pagi Pak Tomo menjinjing tembor (sebutan orang didesa Karamanca terhadap alat untuk mengisi air yang digunakan untuk menyirami tanaman) yang penuh dengan air dan menyiramkannya keseluruh tanaman miliknya.Terlihat begitu terbiasa beliau melakukan hal itu,hingga sepertinya sudah hafal betul cara dan takaran dalam menyiram tumbuh-tumbuhan.Meski pada dasarnya beliau adalah seorang pensiunan guru Sekolah Dasar, beliau terlihat begitu terampilnya merawat tanaman-tanaman tersebut hingga berbuah.Benar-benar seorang yang multitalenta.
        Lepas dari semua itu, Pak Tomo adalah seorang ayah yang baik dan penyayang terhadap ke-7 anaknya.Apabila orang yang mengetahui betul karakter Pak Tomo, mereka akan mengatakan “Pak Tomo itu keras diluar tapi, lembut didalam” secara serempak. Hanya saja bagi orang-orang yang belum begitu paham akan karakter Pak Tomo yang sebenarnya, mereka sering mengaggap Pak Tomo adalah orang yang bengis, tidak beretika baik, bahkan ada pula yang menganggapnya seorang diktator.Ya, begitulah manusia, terlahir dengan berjuta karakter masing-masing sebagai tanda kebesaran sang Empunya hidup.
       Dengan usia yang tak lagi muda beliau masih berjibaku melawan arah putar roda sang waktu. Dengan sisa semangat yang masih beliau miliki dan masih terus dipupuknya semenjak 61 tahun yang lalu, beliau masih dapat berdiri tegak mencari keteguhan hatinya akan sebuah kehidupan. Masih terus menantang terik sang mentari agar dapat terus berteman dengan alam. Seperti manusia pada umumnya, tubuh Pak Tomo tak lagi sekuat dulu saat usianya baru beranjak belasan tahun. Sekarang fitalitas Pak Tomo mengalami penurunan dan tak jarang beliau jatuh sakit.

Kendati seperti itu, beliau tak pernah sedikitpun mengeluh ataupun menggerutu. Beliau hanya terus menjalani apa yang menjadi kewajibannya sebagai seorang makhluk Tuhan, sebagai makhluk sosial, dan tentunya sebagai seorang ayah dan seorang kepala keluarga.

        Begitu asiknya Pak Tomo menyirami tanaman-tanaman di Pekarangan rumahnya, hingga tak sadar bahwa waktu telah beranjak. Mentari juga telah memunculkan semua wajahnya yang begitu menyilaukan. Hingga ahirnya hawa panas dan rasa gerah mulai menyergap tubuh keriput Pak Tomo. Tiba-tiba terdengar suara keras memanggil namanya. “Pak Tomo...! Pak Tomo...!” semakin lama semakin mendekat dan nampak seorang pria paruh baya mendekat kearahnya.

 “Pak Tomo, istirahat dulu. Ini kan sudah siang” pria tersebut mengajak Pak Tomo beristirahat. “Memang ada apa Niat ?” sahut Pak Tomo menghentikan aksinya memangkas daun-daun yang sudah sedikit mengering.

“Ayolah, ada hal penting yang ingin saya sampaikan kepada bapak” sambil menyentuh pundak Pak Tomo.

“Ya sudahlah. Tunggu sebentar aku mau cuci tangan, kamu masuk saja dulu” dengan sedikit menggosok tangannya yang masih berlumuran tanah kering akibat mengorek-orek tanah.

Dengan berbalik arah Niat menjawab “ya pak”.

Kemudian Pak Tomo mencuci kaki dan tangannya lantas masuk dan menemui Niat yang sudah duduk menunggu di ruang tamu.

“Ada apa At?” tanya beliau kepada Niat yang notabennya mantan muridnya di SD dulu.

“Begini Pak, berkas pengajuan sudah saya serahkan kepada pihak Polres. Sekarang kita tinggal menunggu panggilan dari pihak Polres Pak”. Jelas Niat kepada mantan gurunya tersebut.

“Bagus lah At, agar semua urusan cepat selesai” Pak Tomo sedikit lega.

“Sekarang kita tinggal menunggu kepastian, apakah hukum masih berdiri tegak di Indonesia tempat kita berdomisili sekarang ini” tambah Pak Tomo.

“Iya Pak, semoga saja. Kita tunggu info selanjutnya”. Niat juga berharap.
“Walah, gara-gara sibuk mengobrol sampai lupa kamu tidak dibuatkan minum” dengan sedikit menggelengkan kepala.
Kemudian dengan suara agak lantang Pak Tomo memanggil Istrinya yang berada didapur..
“Bu, Ibu...”
“Iya Pak? Ada apa?” sahut Ibu Ira sedikit samar karena jarak ruang tamu dan dapur lumayan jauh.
“Buatkan minum untuk Mas Niat Bu...” Pak Tomo memerintah.
Dengan suara yang agak samar kembali Bu Ira menjawab “Iya Pak sebentar”.

       Tak lama kemudian Bu Ira membawakan secangkir kopi diatas sebuah nampan merah bercorakkan bunga-bunga.Bersamaan kopi juga ada setoples sale pisang yang masih memenuhi wadahnya.

“Monggo mas minumnya. Mumpung masih hangat”. Sambil menurunkan secangkir kopi dan setoples sale pisang dari nampan.

“Oh iya bu, terima kasih. Jadi merepotkan”. Dengan sedikit tersipu.

Kedua ayah tersebut melanjutkan kembali perbincangannya tentang berkas pengaduan kepada pahak Polres.

Tak terasa hari sudah semakin siang dan adzan dhuhurpun berkumandang.

“Wah ndak terasa sudah dhuhur, kalau begitu saya pamit pulang dulu pak”. Berdiri dari tempat duduknya.

“Iya At, terima kasih atas bantuannya” sambil berjalan menuju pintu rumah.

Kemudian Niat mengucapkan salam “asalamu’alaikum”.

“Wa’alaikumsalam” jawab Pak Tomo.

     Hari demi hari telah berlalu seperti biasanya. Masih sama dari hari-hari sebelumnya. Rutinitas Pak Tomo tak begitu banyak perubahan berarti. Memang semenjak beliau pensiun dari profesinya sebagai seorang PNS, beliau menghabiskan banyak waktunya untuk mengurus kebun dan tanaman miliknya. Mungkin untuk saat ini beliau sedang merindukan seorang anak bungsunya yang telah lama belum pulang karena tidak ada hari libur.

Saat ini anak bungsunya sedang mengikuti study disebuah Universitas swasta yang jauh dari kota tempat ia tinggal.

         Hingga ahirnya pada suatu siang disaat Pak Tomo sedang duduk melamun diruang tamu, tepatnya dipojok sebuah bale yang terbuat dari kayu Jati dan bercorakan ukiran pada tempat bersandarnya. Beliau terkagetkan dari lamunannya karena tepukkan tangan Bu Ira tepat dipundak sebelah kiri. “Haaaargh...! ada apa bu? Mengagetkan saja”.

“Bapak itu yang kenapa, melamun saja dari tadi” ucap Bu Tomo.

“Bapak rindu dengan Arga bu. Sudah lama dia tak pulang” dengan sedikit bersedih Pak Tomo menjawab.

“Sudahlah pak, disana Arga juga sedang belajar agar dapat menjadi anak yang berguna bagi bangsa dan negara. Nanti malah Arga merasa tidak betah disana” Bu Ira mencoba menenangkan hati Pak Tomo yang sedang gundah. Mungkin Pak Tomo rindu pada anak bungsunya karena hampir 4 bulan Arga tak pulang kerumah.





bersambung...

by: Heri Harto Sembodo

IBADAH

Makan kacang makan ketupat
Ketupat terbuat dari beras
Mari kita sembahyang cepat
Mari jalankan dengan ikhlas

Buah yang bagus buah delima
Buah delima berwarna merah
Ibadah yang bagus adalah puasa
Puasa dengan menahan amarah

Memancing ikan disungai
Takkan dapat ikan paus
Meraih puasa yang hakiki
Tak sekedar lapar dan haus

Berangkat sekolah setelah mandi
Mandi dengan air yang suci
 Berangkat ibadah ke tanah suci
Tak laksana ibadah haji


dikutip dari buku "Menguntum"

CINTA TAK BERJARAK

Antara Solo-Bogor hatiku terpaut
Meski kadang diliput rasa takut
Antara Solo-Bogor yang jauh terbentang
Tak jarang godaan datang

Antara Solo-Bogor adalah hidup kita
Membangun masa depan bahagia
Tak usah dengarkan kata mereka
Yang tak terima kenyataan kita

Toh, antara Solo-Bogor banyak armada yang mengantar
Kotak pendingin yang setia atau lokomotif yang berjajar
Semua ada untuk kita
Mengantar rasa kepada yang punya

Hari demi hari terlewati
Tak pernah sedikitpun kita tak bersama
Demi kehormatan menjaga hati
Berdua merajut asa

Antara Solo-Bogor
Kini berbeda
Dulu jarak kini berganti
Cinta


dikutip dari buku "Menguntum"

PENGAWAS yang DIAWASI

Manusia tak pernah lepas dari pengawasan
Setiap gerak-geriknya tercatat
Baik buruk oleh malaikat
Ringan berat oleh sang pencatat

Itulah pengawas yang hakiki
Yang tak henti mengawasi
Itrulah pengawas yang abadi
Yang tak bisa dibohongi

Eits, tapi...
Lihatlah kini
Apa yang ada diruangan ini
Kenapa pengawas itu banyak sekali?

Dengan tiga puluh tiga pasang bola mata
Terus menata ke muka
Ada apa sebenarnya di sana?

Tak ada yang menarik di sana
Yang ada hanya seorang wanita berjilbab cokelat
Tak ada yang istimewa darinya
Apalagi perhiasan yang mengikat

Lalu, siapa sebenarnya dia?


dikutip dari buku "Menguntum"

SEBUAH PENANTIAN

Terus menghitung
Dan selalu menghitung
Dalam sebuah penantian panjang
Akan sesosok hamba kecil

Yang maknanya tak sekecil tubuhnya
Yang kehebatannya tak selemah raganya
Yang artinya tak semungil tubuhnya
Dalam hidupku

Tak kuasa ku menunggu suatu masa
Ketika seorang berbaju serba putih
Itu berkata...
"dia telah ada dalam dirimu"


dikutip dari buku "Menguntum"

Sabtu, 18 Mei 2013

DIAM

bunyi kertas tersapu angin kipas
lembut tajam coretan pena menorah kertas-kertas suci
dan bisik-bisik nyata tak mampu mengoyak kesepian
menambah pahit dan nyeri perasaan teriris murka
dan tertahan dalam jeruji nyali menunggu waktu
hingga bunyi lonceng berlalu
menggelegar memecah segala yang membatu


dikutip dari buku Menguntum

siswa

mata-mata terbelalak
dengan sejuta tanya seribu rindu
pada jawab yang pasti tentang rahasia
dunia nyata dan dunia maya dengan segupal harap
dan sekepal hasrat akan kebahagiaan kekal baka
dan sedikit terik memanggang benak
yang selalu terputar oleh ragam ketidaksempurnaan alam
menjelang mimpi dan menjelang kepalsuan dalam diri



dikutip dari buku Menguntum

MARAH

adalah gelinjang tawa
mereka yang alpa
akan ketidaktahuan yang belia
menohok batas amarah
mencuat tempat kerelung hati
yang panas membara hingga ke ujung penciuman
dan telinga serta pancar mata
membakar segala yang tersisa
adalah bara api di atas bongkah salju beku
hati yang sejuk dan kembali mati


dikutip dari buku Menguntum

TERSIPU


dengan tunduk kelu ciuman syahdu
penuh sesal prahara dosa
dan pengampunan bersatu dalam langkah lesu
menuju kebebasan dan ampunan
tak secuil rasa hinggap hingga siang menjelang
sapa tawa sang brahma lirih menerpa


dikutip dari buku Menguntum

GURU

sepanjang gelar geliat lesu
menerjang badai kehidupan
sang guru mengejar keabadian pengabdian bagi negeri
lewat ucapan harap dan rimik tarian ibadah
adalah sosok ceria menyambut mentari
mengantar anak bangsa ini menuju gerbang prestasi
dengan sebongkah emosi yang rawan terburai
dalam rasa tertahan kesabaran
dan cinta kasih yang manis
dan hitam pekat selaksa jelaga tercekat
dalam kerongkongan suci nurani


dikutip dari buku Menguntum

MAJU ATAU KALAH?

Kalian saling memandang
Memandang dalam tatapan beku
Bisu...
Tanpa suara
Tanpa bunyi

Hanya mata itu yang bicara
Tanpa kata
Tanda ketidakpahaman

Lalu apa yang kau pertanyakan padanya?
Toh, kalian sama...
Sama-sama hanya saling pandang

Pandang kanan kiri
Tak ada jawaban
Pandang depan belakang
Tak ada jawaban

Kenapa tak kau coba memandang dirimu sendiri?
Bukankah kau raja untuk dirimu sendiri?
Atau sudahlah...
Teriaklah kau menyerah!


dikutip dari buku Menguntum

Selasa, 07 Mei 2013

Sejauh Langkah Teripang


Sejauh Langkah Teripang

Ini adalah hari pertama aku melewati hari pertama dikota solo,kota panas,gersang,jg tak ada yang ku kenal.
Mungkin itu hanya sebuah awal yang akan berpenghujung,dan hanya kesan pertamaku saja.
Masih ada hari esok atau lusa untukku merasa lebih baik dari ini.
kenapa aku masih merasa kesepian?padahal setiap hari,kapenpun,dimanapun,aku juga merasakan hal ini.
Tapi,biarlah.masih banyak hal yang lebih penting dan bermakna dari ini.
Tentang masa depanku juga tentang langkahku kedepan mau bagaimana.
Sebenarnya ini hanya masalah adaptasi.Tentang bagaimana caraku tuk bertahan hidup.Bertahan dari kerasnya kehidupan.
Memilukan memang,kalau aku harus merasakannya lebih dalam.
Karena detik saat aku membuat tulisan ini tak ada satupun kawan disampingku.
Tak ada yang bisa kuajak berbagi,tuk saling mencurahkan problema yang menggempur jiwa.
Ini bukan penderitaan ataupun siksaan yang kejam,dimana aku menjadi pihak yang paling dirugikan.
Aku akan berjuang untuk diriku dan masa depanku,serta untuk keluargaku yang selalu memberi dorongan mental,material jg spiritual.
Aku tak mampu melakukan banyak hal kali ini,hanya sedikit pemahaman yang kudapat.
Kelak akan kuingat hari-hari pertama yang kulewati dengan susah payah dan  melelahkan ini.
Hari kedua juga membuatku bosan,begitu juga dengan hari-hari berikutnya.masih juga membosankan.
Terlebih bila aku sedang duduk termangu sendirian,hati dan pikiran juga tak bisa berfikir jernih.Karena ini hari dimana aku harus belajar mandiri apapun yang aku lewati merupakan tolak ukur kedepan.
Mungkin ini tema yang takkan pernah terdeteksi oleh suatu apapun.Memang benar dimanapun aku menjejakkan kaki,semua trasa sama entah keadaan atau apapun.
Tapi aku hanya manusia biasa yang masih bisa merasakan jenuh,bosan,dan benci dengan suasana yang selalu sama.
Dengan sedikit mental saja untuk membuatku lebih tegar.Jangan takut pada apapun yang ada didepan kita,karena itu hanya sedikit dari bagian kehidupan yang sering kita dengar dengan istilah “cobaan”.
Hingga pada saatnya tiba,aku akan berjuang tanpa gentar.Langkahku kini semakin tegar,tanpa gentar,walaupun banyak halilintar yang menyambar-nyambar.
“Karena apa?”
Karena kakiku telah mengeras.Mengeras akibat berpacu dengan waktu,melangkah dengan jejak yang tertinggal diatas aspal yang membara.
Mungkin siapa yang tau?,bahkan siapa yang mau tau?
Itu sedikit tanya yang hanya akan terjawab pada masanya yang akan tiba.Aku bersumpah demi namamu Ibu.........
Hari ini ddan selama aku bernafas aku takkan mudah tuk tertunduk pada rintangan.
Tuhanpun maha tau,jalanku akan terasa lebih mulus dan longgar dengan sedikit hambatan.
Memori kelam dimasa lampau adalah kebaikan didepan sana.
Rasa malu hannya akan mengantarkan kita pada keterpurukan.Jadi,aku akan menjauhinya dengan kemampuan terbaik yang Tuhan berikan.
Meski sedikit aku tentu mempunyai rasa malu.Karena pada hakekatnya,hanya orang gilalah yang tidak mempunyai rasa itu.
Aku memang berbeda,kata orang aku aneh.Tapi kataku mereka hanya belum mengerti apa sebenarnya yang disebut ‘unik’.
Aku tak menghiraukan apa yang orang katakan.Aku hanya peduli tentang bagaimana caraku melangkah tanpa ragu,melangkah tanpa bayang-bayang hitam yang pernah membuntutiku.
Aku geram saat aku sendiri tak mengetahui siapa aku?.Mencari jati diri yang masih terpendam huru hara.
Jauh didalam edukasi yamg sedang kupelajari,aku tau betul siapa diriku,tentamg bagaimana aku terlahir kedunia.Semua terlampau gamblang untukku telusuri.
Akupun tau pada masaku baru bisa terbujur tak berdaya dan hanya tertopang tulang rawan.
Kisah itu takkan pernah kulupakan agar aku semakin kuat ddan tau seberapa rentan bila aku harus berbangga.
Sebenarnya aku ingin mati sebagai ‘parasit’ dan hidup kembali dengan pundi-pundi ‘mutualisme’.Pasti akan lebih menyenangkan daripada dorprize-dorprize yang ditawarkan dilayar kaca.
Kembali pada puncak kebosananku..Aku ingin mengatakan ini pada ayah.Bahwa “anakmu banyak berubah tergerus masa”.
“Sebenarnya aku malas untuk terus mengerutkan dahiku,karena harus terus-terusan berjibaku dengan argumen kita masing-masing”.
Kelak,jika aku pulang.Berilah sedikit kesempatan agar kita bisa menuangkan kehangatan sebagai hubungan yang harmonis.Ayah......kumohon lupakan segala kesalahanku.Agar langkahku tak tertatih seperti langkah teripang.
Walau berat akan kujalani dengan tegar,apabila kau meridhoi jalanku.ini aku benar-benar menguras segala sesuatu yang aku miliki,walau keluh kesah kadang terdengar.
Begini.......
Ku awali dari tempat tinggalku sekarang.Welah dalah......sungguh menambah rasa bosanku.
Bagaimana tidak,penghuninya saja seperti patung.Hanya terdiam sepertinya acuh tak begitu peduli padaku dan teman sekamarku.Aku tak begitu mengerti dengan semua ini.Mungkin karena kami berbeda,mungkin juga karena ada pembatas diantara kami.Aku sadar benar siapa diriku dan apa posisiku.Hingga kini sepertinya tak mau berbaur dengan kami.
Sudahlah,aku takkan terus berlarut-larut dalam kegundahan ini.Biarlah mereka seperti apa,yang penting kami sudah berusaha bersikap baik.Karena hanya itu yang bisa kami lakukan untuk sekarang ini.Sebenarnya aku hanya iugin hidup berdamping dengan mereka dengan damai seperti keluarga sendiri.Aku menginginkan hal itu karena disini tak ada siapapun keluargaku yang tinggal dalam satu atap.
Hanya ada satu anggota keluargaku disini,dialah adik perempuanku.Dia adalah anak perempuan dari pamanku,atau bisa dibilang juga,sepupuku.
Mungkin semua orang yang ada di kota ini mempunyuai berjuta karakter yang saling bertolak belakang.Tapi,kumohon.Buanglah rasa sombong dari hati mereka ya ALLOH,agar mereka bisa menjadi teman sekaligus keluarga yang baik selama aku disini,atau mungkin selama hidupku.
Kian lama waktu  yang terlewati,ahirnya aku tahu bahwa ini hanyalah semacam ospek bagi kami,anggota kost baru.
Hal itu membuat tawa dan kejenakaan yang semakin mencuat.Ternyata anggapanku selama ini keliru.Memang benar,berjuta manusia,berjuta pula karakter.Namun tak semua karakter tak sejalan dengan angan kita.Meskipun usai sudah kegundahan akan perasaan sendiri,masih ada banyak problema yang aku rasakan,dan terus akan menjadi huru-hara.
Tak terasa nafas ini mulai berkurang ketajamannya,mulai merasa terkekang dalam kebebasannya.Dan semakin lama membangunkanku dari hibernasi yang terlalu nikmat dirasakan.Separuh nafasku hilang dalam hela.semakin menyempit dan seperti mencekik rongga paru-paruku.Faktaya memang begitu,karena teman yang datang terus silih berganti tak ada hentinya.Apa masih bisakah disebut teman?.
Disaat aku terpuruk dan membutuhkan tempat berbagi,seakan mereka hilang tertelan roda sang waktu yang garang.Benar atau salah,itu hal yang terjadi tanpa ada kebohongan sedikitpun didalamnya.Setiap kejadian apapun semakin membuatku yakin akan perubahan yang akan terus abadi seperti Penciptanya sendiri.Langkah demi langkah telah terlewati hingga ahirnya aku menyadari ada seseorang yang spesial yang datang tiba-tiba tanpa rencana,tanpa sedikitpun aku menerka begini jadinya.
Dialah Safa Hervana,seorang gadis manis cantik jelita dengan berbagai kelebihannya.Memang pertama jumpa,entah aku atau siapapun pasti akan tertuju pada parasnya dahulu kemudian akan mampu mengenalnya lebih dalam.
Safa memang gadis yang mendekati kesempurnaan.Selain parasnya yang menawan dan kalem (dalam bahasa jawa sering disebut begitu).Nilai tambah yang lain masih banyak tersisa bila kita keluar dari skrip tentang fisiknya.Dialah orang hebat dengan IP tertinggi difakultas kami.Hampir sempurna IP yang dia peroleh.
Itu yang membuatku semakin terispirasi pada seorang Safa Hervana,seorang gadis yang nyaris sempurna bagiku itu.
Kenapa begitu?
Jawabnya terlampau mudah,karena Safa sangat baik padaku.Mungkin bisa dikatakan kami muda-mudi yang mulai ‘dekat’ karena sering kami nikmati waktu berdua.Safa Hervana juga sering memotivasiku lebih dari temanku yang lain,bahkan teman-teman laki-lakiku.Semua perhatian yang aku tidak dapatkan dari orang lain,pernah Safa berikan.
Satu hal yang membuatku salut dengannya,selain fisik yang anggun dan sederhana,Safa juga gadis yang tidak sombong dan tak mengenal gengsi tapi, penuh prestasi.Setiap pulang kerumahnya yang ada di Yogjakarta dia selalu naik bus,dan dari tempat kostnya dia berjalan kaki.
Hal yang membuatku bingung,kenapa dengan fisiknya yang lelah setelah seharian berjibaku dengan harinya,dia selalu bangun malam untuk melaksanakan sholat tahajjud.Waktu belajarnyapun sama porsi dengan mahasiswa lain.Tapi kenapa dia menjadi yang terbaik?
ha...ha...ha...
Aku benar-benar tak habis pikir.Dialah satu-satunya wanita yang mau dekat dan bergaul denganku,alasannya cukup masuk akal.Aku memang pria yang sesuka hati dalam melakukan apapun,tanpa berpikir panjang terlebih dahulu,atau anak muda sekarang sering menyebutnya ‘semau gue’.
Bila dibandingkan antara aku dan Safa bagai ‘jenang dan ketan’,bak ‘malaikat dan setan’.Memang sedikit hiperbola,tapi nyaris menjadi fakta.Safa dengan berbagai kelebihannya,dan aku dengan berjuta kekuranganku.Sering teman akrabku di kampus seperti Tama dan Fauz mengejekku akan hal itu.
Setelah aku dan Safa semakin dekat harusnya aku katakan saja kalau aku menyukainya,agar Safa percaya kalau aku bukanlah orang yang hanya suka main-main.Tapi hingga sekarang aku tak pernah mengatakan hal itu padanya.Itu semua karena ada seseorang yang mendahuluiku mengatakan “aku cinta kamu” padanya.
Mungkin itu adalah yang terbaik daripada hubungan kami terus menggantung tanpa kepastian,karena 8 bulan sudah kami saling mendekat.
Awalnya aku curiga kenapa Safa menjadi berbeda.Caranya memperhatikan dan memperlakukanku semakin lama semakin memudar dan kini telah resmi hilang.Hal itu membuatku terjatuh dan semakin rapuh.Aku yang membuat lubang untuk diriku sendiri terjerembab kedalamnya.Dan kini saatnya aku katakan bahwa ini murni kesalahanku.
Lama setelah Safa pergi,aku semakin tak karuan seperti amnesia dengan tujuan utamaku.Tak ada lagi yang membangunkanku saat fajar mulai nampak,tiada lagi orang yang mengajariku tentang kesederhanaan dan cara menumbuhkan semangat.Telah sirna nasihat betapa pentingnya agama dalam hidup ini selain keluargaku sendiri.Hilang sudah semua motivasi dan inspirasi yang sebelumnya telah terlukis nyata dalam benak kecilku.Aku masih merasa tak terima dengan hal yang terjadi.Tapi itulah kenyataan,sering memilukan dibanding membuat kita riang.
Setelah beberapa lama aku merasa kehilangan semangat,ada satu teman kostku yang sering aku ajak berbagi dengan cara mengobrol.Hingga pada suatu ketika ada satu nomor handphone yang dia berikan padaku.Entah nomor Handphone siapa yang dia berikan,aku tak begitu tertarik dan malas untuk menanggapinya.Namun,ahirnya aku kirm saja pesan singkat kenomor Handphone tersebut.Awalnya memang aku sembrono dan seperti tak menganggap itu sebagai hal penting.
Pesan yang aku kirim kenomor HP tersebut berisi bahasa yang tidak karuan dan seringkali bagai omong kosong belaka.Hingga suatu ketika temanku Dadang (nama panggilannya) memposting didinding facebook temannya.Mau tidak mau,pasti dia tahu kalau memang akulah orangnya.Pria usil yang suka menggangu orang tanpa banyak berpikir panjang.Pikirku “si dia” akan membalas perlakuanku padanya.Tapi,itu hanya perasaanku saja yang seringkali negative thinking pada seseorang.
Singkat cerita.Aku mulai mengirimkan pesan singkat yang baik dan benar.Karena aku tahu dia bukanlah orang jahat.Tapi,cenderung kearah lugu dan polos.Hingga pada suatu malam yang sangat indah aku meneleponnya.
Sebut saja “Lala” itu nama panggilanku untuknya.Bukan tanpa alasan aku memanggilnya Lala,tapi ada beberapa penyebabnya.Lala merupakan tokoh dalam film anak-anak dengan mata yang besar dan kulit coklatnya, (sebenarnya kuning) persis dengan ciri-ciri fisiknya.Selain itu,cara tertawanya nyaris mirip dengan gelak tawa “Lala”.Itu sebabnya aku memanggil dia dengan sebutan “Lala”.Memang bukan nama tulennya,tapi hingga sekarang saat aku mengetik,masih sama.Tetap “Lala.”
Ha...ha...ha...
Memang sedikit jenaka,dan mungkin juga hal itu yang membuat aku tertarik.Ada apa dibalik semua ini.Mika Hana Efendi, nama yang akan kuingat dan pasti kuhargai selagi itu benar.Ya,nama itulah nama asli dari “Lala”.Kalau teman-temannya memanggil Lala dengan panggilan “Mika”, diambil dari nama depannya.Entah apa panggilannya, aku tetap mengenalnya sebagai “Lala” yang gelak tawanya jenaka dan sedikit menggelitik.
Baiklah....
Kembali kecerita sebelumnya.Malam itu aku putuskan untuk menelepon Lala.Sekitar pukul 19:20 aku mengangkat HPku dan meneleponnya dengan tujuan meminta maaf atas SMS yang sering aku kirim keponselnya.Setelah menunggu sejenak,ahirnya terhubung juga.
Bunyi “tut...tut...tut..” kian santer terdengar.Dan seketika berubah dengan bunyi “krusek” pertanda teleponku telah ditanggapi olehnya.
Aku berusaha membukanya dengan kata “halo”
Namun dia lebih cepat dariku, bahkan megeluarkan dua kata sekaligus “halo,assalamu’alaikum”.
Kemudin bertanya,”maaf ini siapa ya?”.Aku sedikit gugup untuk menjawabnya.
“Hmmmm...aku temennya Dadang”.
“Dadang siapa ya?”, dia kembali bertanya.
Langsung saja aku jawab,”Dadang Junaedi, temen kamu.
Dia menjwab dengan sedikit tertawa, “hehehe, oh ternyata kamu ya?”.
“Iya, ini aku.Cowok yang suka SMS nggak jelas sama kamu”, aku merasa lebih tenang dari sebelumnya.
Dia kembali tertawa dan sembari mengatakan, “ya nggak apa-apa kok,nyantai aja”.
Agar lebih jelasnya kurang lebih obrolan kami seperti dibawah ini.
Aku     :”tapi, aku kan nggak enak.Udah sering nggak sopan sama kamu”.
Lala    :”hahaha, makannya mas...jangan sembarangan kalau SMS.Jadi nggak enak sendiri kan?.
Aku     :”hehehe, y mba.Abis aku nggak tau ini siapa si...”
Lala   :”lho...lho...lho...udah nggak tau malah seenaknya sendiri.Pie to?”.(Logat jawanya  mulai    nampak).
Aku     :”makannya aku mau minta maaf mba...”
Lala   :”Ya udah nggak apa-apa kok”
Aku     :”Eh lupa, nama kamu siapa ya?.Udah ngobrol dari tadi kok belum saling kenal”.
Lala  :”difacebook kan udah ada namanya mas”.
Aku     :”ya si, tapi kan lebih afdol kalau nanya langsung sama orangnya”(sebenarnya aku memang sudah tau).
Lala   :”hehehe, aku Mika Hana Efendi, kamu siapa?”.
Aku     :”Liat aja difacebook,hehehe bercananda, aku Rudy Bono Sembodo.Terserah mau panggil apa yang penting jangan panggil belakangnya doang ya, kedengerannya nggak enak”.
Lala   :”hahaha, emang kenapa?, aku panggil “Bodo” aja ya mas?”
Aku     :”hust.Nggak dipanggil beg* sekalian?”
Lala   :”hehe, becanda lho,jangan dimasukin hati.Terus aku panggilnya apa dong?”.
Aku     :”kalau temen-temen kebanyakan  panggil aku “Aput”.
Lala   :”lho kok bisa gitu mas?”.
Aku     :”ada alasan tersendiri, tapi aku nggak bisa cerita sama kamu.Eh, dari tadi kok panggil aku mas terus si?, jadi ngerasa tua”.
Lala   :”hmmmmm...ya nggak apa-apa kalau nggak bisa cerita, aku kan Cuma nanya.Kan emang udah  tua mas”.
Aku     :"hehe iya juga sih".
Obrolan terus berlanjut hingga sekitar pukul 22:35.
Ahirnya kami saling mengenal satu sama lain, walaupun Cuma lewat ponsel.
Hampir setiap hari kami SMSan (dalam bahasa anak muda).
Hingga suatu ketika aku tahu kalau Lala ternyata setiap harinya naik bus dari rumah dan berjalan kaki kekampus.Aku ingin sekali mengantarnya pulang, sekalian bertatap muka dengannya, karena dari pertama aku berhubungan lewat ponsel belum sesekalapun aku bertemu dengannya.Dihari berikutnya 
Lala yang sedang menunggu bus di Halte dekat kampus langsung saja kutawarkan niatku itu.Ternyata Lala mau aku mengantarnya pulang.Akupun langsung tancap gas menuju arah halte yang kira-kira hanya berjarak 500 M dari tempat kostku.Sebenarnya aku agak was-was bertemu dengannya.Tapi,aku tetap menuju halte.Karena itulah aku terlahir kedunia sebagai seorang pria !
hehehe...
Sesampainya di Bangjo (rambu lalu lintas) aku bingung Lala itu yang mana, karena banyak gadis-gadis yang berkerumun di Bangjo.Aku tunggu saja dia di Halte bus.Tapi, tiba-tiba ada SMS masuk,ternyata dari Lala.
“Bingung ya nyari aku?”.Kurang lebih seperti itu SMSnya.Langsung saja aku balas pesan singkatnya itu, kalau aku bingung yang mana si Lala.
Tak lama kemudian ada sekumpulan gadis yang masuk ke Halte.Tapi,tak ada yang menunjukkan lagak bahwa dia si Lala.
Tiba-tiba muncul dari belakang gadis berbaju abu-abu kelabu, dan berjilbab dengan warna yang sama.Dugaanku dialah si Lala.
“Bingung ya nyarinya?” tiba-tiba gadis itu bertanya.
“Kamu Mika ya?”(aku tau dari FBnya), akupun bertanya untuk meyakinkan kalau dialah Mika yang kucari.
Dan diapun menjawab, “ya, aku Mika, kenapa tadi kok nggak berhenti?”.
“Mana aku tau kalo kamu Mikaa?!” aku menyampaikan aspirasiku.
“Hehehe, tapi sekarang udah tau kan?”.
“Ya udah lah...Ayo?!”, aku mengajaknya  pulang sambil mengulurkan helm ditangan.
“Ayo”,Lalapun lekas memakai helmnya.
“Tadi lama ya nungguinnya?”, aku mencoba mengajaknya bercanda.
“Hehe, enggak! Cuma setengah jam”, mungkin Lala agak kesal.
“hmmm maaf  ya, kan harus nyari dulu”.
Kemudian obrolan berlanjut diatas motorku yang sudah paruh baya.
Aku meminta Lala sebagai penunjuk jalan,atau bahasa kerennya  Guide diperjalanan kami kerumahnya.Aku memang orang yang terkenal pelupa.Entah kenapa seperti itu, padahal usiaku masih terlalu muda untuk menyandang predikat pikun.Perjalanan dari kampus kerumah Lala sekitar 1 jam bahkan lebih, jika menaiki bus.Tapi, aku mengebut untuk mempersingkat waktu.Sebenarnya aku masih dalam kecepatan sedang, tapi beda kalau menurut cewek.Sempat ditengah perjalanan ada dua muda-mudi yang berboncengan dan melihat kearah kami sambil tersenyum.Dugaanku mereka adalah teman Lala, yang mengira kami berpacaran.Haaaah sudahlah, birkan mereka tertawa tapi, memang itu yang kuharapkan.
Satu jampun terlewati dengan cepat, hingga ahirnya sampailah kita dirumah Lala.Kembali rasa was-was menghantuiku.Tapi, kenapa aku harus takut?.Aku seorang pria, apapun yang terjadi haruslah kuhadapi.Memang sedikit lelah setelah perjalanan satu jam yang gersang tanpa ampun.Namun, bila melihat senyum dan cara “imut” panggilanku untuk Lala dengan sedikit mengejek kepanjangan dari (item mutlak) berbicara, hilang sudah rasanya lelah itu.Apalagi adik Lala yang hanya terpaut satu tahun dengan kakaknya itu membawakan aku segelas teh yang menyegarkan.Semakin betah dibuatnya.Menit demi menit terlewati, bahkan jam demi jam terlampaui di Rumah damai milik keluarga Lala.Tapi disela-sela obrolan kami, datang teman Lala yang ingin mengajaknya keluar mencari buah segar.Aku memang tidak suka saat damai seperti sekarang ini ada seseorang yang mengganggu.Itu memang kepribadian jelekku.Tapi, itulah aku, tidak suka terlalu akrab dengan wanita selain yang kuberi rasa lebih.Agaknya terdengar konyol.Namun, mau bagaimana lagi begini adanya.Akupun merasa tadak betah terus berada di situ karena kedatangan teman Lala.Mungkin lebih tepatnya aku merasa tidak enak dengan Lala dan temannya.Sebenarnya aku memutuskan pulang kekost.Tapi, nyaliku menciut saat berada di depan gadis-gadis.
Hahahaha...aku tertawa bila teringat akan hal konyol tersebut.Tapi, aku tetap tidak setuju kalau aku disebut sebagai orang yang aneh.Aku tetap pada pendirianku, kalau aku lebih suka disebut unik dibanding aneh.Aku tak mau ada kebohongan diawal perjumpaan ini.Langsung saja aku katakan pada Lala kalau aku malu kalau ada teman-temannya itu.Kemudian aku menyuruh Lala untuk mrminta temen-temannya untuk menyingkir sejenak karena aku mau pulang.
"Hahahaha..dasar pria konyol yang nggak punya nyali !" gerutuku dalam hati.
Aku seperti tak terima pada diriku sendiri.Biarlah semua berjalan seperti seharusnya tanpa ada kebohongan didalamnya.Memang Lala mau menemaniku keluar rumah.Mungkin agar nyaliku yang menciut kembali tumbuh dan berkembang bagai kehidupan.Itupun masih tetap membuatku tersipu malu bagai gadis kecil yang lugu.Hingga ahirnya dua temannya itu pergi, mungkin Lala yang menyuruhnya secara diam-diam melalui ponsel.
Akupun bangun dari tempat dudukku sembari meminta Lala memanggil ibunya untukku berpamitan.Tetapi, beliau sedang tak enak badan dan tak bisa keluar menemuiku.Sebenarnya perasaanku agak sedikit tak enak, hingga menimbulkan berbagai tanya didalam kalbu.Sudahlah, untuk kali ini aku mencoba untuk berpikir positif.
Akupun bergegas keluar dari rumah Lala yang unik dan nyaman itu.Uluran tanganku Lala sambut dengan senyum,begitu juga adiknya.Hal itu membuatku riang seakan melayang.Apakah ini yang disebut “cinta pada pandangan pertama?”.Entahlah...yang jelas aku merasa senang hari ini.Setelah aku menyalakan mesin motorku dan kemudian aku keluar gang, ternyata kedua temannya berada di ujung gang.
Dasar Lala.Aku merasa tak enak dengan mereka berdua.Karena itu, langsung saja aku tancap gas sekencang-kencangnya.Dan akupun pulang ditemani senja dengan warna jingga diufuk barat dan panorama asri Yogyakarta.
Semilir angin serasa bernyanyi menyambutku pulang.Semua bagai berwarna dan berirama mengiringi putar roda.Bagai langit senja ditutupi surga hingga membuatku terlena dan terlupa kalau aku lupa arah jalan pulang.
Memang ini hariku.Aku terus saja berjalan tanpa henti dan ternyata tak ada satu jam kemudian aku sampai di depan gerbang kost Fajar.Semua terasa begitu indah dan tanpa cela.Membuatku tuli akan suara yang membuatku gundah.Apapun itu, yang jelas aku bahagia hari ini.Dan terus berlanjut saat aku mengahiri masaku terjaga.Hari demi hari kulewati dengan begitu cepat,hingga pada saatnya aku mengajak Lala keluar,atau anak-anak muda jaman sekarang sering menyebutnya dengan ‘ngedate’ atau jalan berdua.Lala memang mau aku ajak jalan.Tapi, dia malah mengajak dua temannya, Tata dan Putri,begitu nama panggilan mereka.
Singkat cerita kamipun pergi kesebuah curug (air terjun).Haripun berlalu dengan begitu cepatnya,seperti tak mau menghitung lama,detik demi detik,menit demi menit, dan jam demi jam.Kami cukup menikmati suasana di sana.Dengan segala pernak-pernik dan asesoris curug.Itu membuat aku dan Lala semakin dekat seperti telah saling kenal sejak lama.
Hari demi hari yang aku lewati begitu cepat dan tak terlalu terasa.Suatu hari aku memutuskan mengajak Lala pergi kesebuah taman, dan ahirnya kata-kata itupun keluar dari mulutku.Walau terasa canggung.Dan aku memberanikan diri agar aku bisa mengatakannya.Entah apapun yang akan aku tuai, aku siap.Ternyata Lala juga menyambut bait-bait sulitku dengan tidak mengecewakan, dan.....jadilah kami dalam satu keadaan yang nyaman.
Sekarang Lala telah mempunyai hubungan spesial denganku.Dia harus tau konsekuensinya berhubungan denganku yang notabennya adalah pacarnya.Banyak hal-hal baru yang kulalui bersamanya, dan itu membuatku bagaikan tanpa jarak dengannya.
Lambat laun kami mulai mengetahui benar kekurangan kami masing-masing yang dulu semasa kami belum menjalin hubungan spesial tak kami ketahui.

bersambung...


By: Heri Harto Sembodo